
BANDARLAMPUNG, SAYLAMPUNG.ID- Penjabat (Pj) Bunda Literasi Provinsi Lampung, Maidawati Retnoningsih, menerbitkan buku “Terjebak di Puncak” di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Senin (10/2/2025).
Pj. Gubernur Lampung, Samsudin, mengungkapkan, buku ini merupakan catatan perjalanan dan refleksi seorang istri Pj. Gubernur.
“Saya mengapresiasi Maidawati Retnoningsih karena berani, jujur dan tulus menuliskan pengalaman selama mendampingi saya,” ujarnya.
Maidawati menulis buku itu ialah kisah pribadi tapi juga sebuah potret realitas tentang dinamika tantangan dan pengalaman tak semua orang tahu dibalik layar seorang pimpinan daerah.
“Maidawati ini berperan bukan hanya sekedar pendamping, melainkan juga mitra strategis yang selalu mendukung moral, emosional, dan intelektual berbagai situasi,” ujarnya.
Ia meyakini, setiap keputusan dan langkah dalam menjalankan amanah, ada peran besar seorang istri yang penuh sabar, pengertian dan tulus.
Buku ini, kata ia, juga menggambarkan lebih humanis tentang kehidupan di pemerintahan, suka, duka, dan menjalani peran penuh ikhlas.
“Saya berharap buku ini menjadi bahan refleksi, pembelajaran, dan dapat menjadi inspirasi banyak orang, khususnya istri pejabat, baik Lampung maupun luar Lampung,” ucapnya.
Kisah Nyata
Maidawati Retnoningsih mengungkapkan, buku ini ialah bentuk refleksi penuh makna, menghadirkan kisah nyata sarat perjuangan, tantangan, dan pembelajaran hidup.
Sebuah karya tak hanya menggugah tapi juga wawasan menginformasikan mendalam tentang perjalanan seorang perempuan menghadapi dinamika kehidupan di puncak kepemimpinan.
Menurutnya, buku ini mengajak pembaca memahami sisi lain kepemimpinan. Bukan sudut pandang seorang pemimpin, melainkan dari pasangan yang turut mendampingi.
“Betapa banyak nilai bisa kita petik, mulai dari teguh hati, berkorban, hingga makna sebuah pengabdian,” ucapnya.
Dia berharap buku ini dapat menjadi inspirasi banyak orang, terutama kaum perempuan yang tengah berjuang dalam berbagai peran mereka.
“Semoga buku ini hadir, semangat literasi kian berkembang, membuka ruang lebih banyak narasi menggugah dan membangun,” harapnya. (kmf)